Menghitung Untung dari GoFood dan GrabFood Setelah Dipotong Komisi
Harga di agregator biasanya di-markup untuk menutup komisi. Pertanyaannya, cukup atau tidak. Ini cara menghitungnya dengan angka.
Hampir semua kedai menaikkan harga di aplikasi agregator untuk menutup komisi. Yang jarang dilakukan adalah memeriksa apakah kenaikan itu benar-benar cukup. Markup yang terasa besar sering ternyata hanya menutup sebagian.
Kesalahan yang membuat hitungan meleset
Komisi dihitung dari harga yang tertera di aplikasi, bukan dari harga di kedai. Jadi menaikkan harga sebesar persentase komisi tidak pernah cukup, karena kenaikannya sendiri ikut dipotong.
Markup 20 persen dengan komisi 20 persen
- Harga di kedai
- Rp25.000
- Harga di aplikasi, naik 20%
- Rp30.000
- Komisi platform 20%
- -Rp6.000
- Diterima kedai
- Rp24.000
- Selisih dari harga kedai
- -Rp1.000
Markup 20 persen terhadap komisi 20 persen justru menghasilkan penerimaan lebih kecil daripada menjual langsung. Supaya penerimaannya sama, harga di aplikasi harus dibagi, bukan ditambah persentase: Rp25.000 dibagi 0,8 yaitu Rp31.250.
Rumusnya
Harga di aplikasi sama dengan harga kedai dibagi hasil pengurangan satu dengan persentase komisi. Untuk komisi 20 persen, pembaginya 0,8. Untuk komisi 25 persen, pembaginya 0,75.
Yang masih perlu dipertimbangkan
- Kemasan untuk pesanan antar biasanya lebih mahal daripada kemasan dine-in, dan itu biaya tambahan yang nyata.
- Harga yang terlalu tinggi di aplikasi menurunkan jumlah pesanan. Menutup komisi sepenuhnya belum tentu pilihan terbaik.
- Uangnya baru cair beberapa hari kemudian, jadi penjualan agregator memperbaiki laba lebih dulu sebelum memperbaiki kas.
Di Kelola, tiap platform punya daftar harga sendiri dan persentase komisinya sendiri. Komisi terpotong otomatis di laporan laba rugi, sehingga laba bersih per channel bisa dibandingkan: berapa yang benar-benar Anda bawa pulang dari agregator dibanding dari penjualan langsung.
Lanjut membaca
